Garuda Indonesia

Masih terasa dalam ingatan kita tentang peristiwa jatuhnya pesawat Garuda  di bandara Adi sucipto Yogyakarta, korban yang tewas kurang lebih 23 pax diantaranya terdapat juga penumpang Bule dari Australia. Saya masih ingat sekali kita salah satu korban bule yang di Evacuasi pake tandu yang dibawa ke salah satu Rumah sakit, kebetulan Metro Tv menyiarkan berita itu yang diambil dari syutingan salah satu pax (penumpag) yang kebetulan Jurnalist Australia yang selamat dari crash tersebut. Si Jurnalist sempat bertanya kepada pax yang terbaring itu namun masih bisa bicara karena luka yang diderita bagian paha belakang hingga pantatnya. pertanyaan Jurnalist itu… Are you Australian …? di jawab si Korban … Yes, I am australian Air force. Australia sebagai negara dapat dilihat sangat melindungi hak2 warga negaranya even di luar  Australia. Adanya korban tewas dipihak Australia dan secara kebetulan pihak garuda membawa (FDR) Flight Data Record dan (VCR) Voice cocpict Record untuk dibuka atau dibaca data-data yang sangat significant yang tertinggal dalam Black BOX tadi, rupanya pihak Australia sempat membaca apa yang tersimpan pada VCR kalau ternyata penyebab Accident Garuda Indonesia di Jogja bebrap bulan lalu, karena Human Error. Dapat dipastikan penyebab human Error itu karena  hasil dari VCR terbukti bahwa adanya perselisihan antara Captain dan Copilot mengenai ketinggian untuk touch dawn pada landasan Adi Sucipto. Copilot mengusulkan agar dilakukan go around satu kali lagi, baru clear to land tapi sang Captain yang katanya memiliki jam terbang 25000 tidak mengindahkan saran Copilotnya. Akhirnya  Sang Captain sangat menyesalkan hidupnya, terbukti setelah di investigasi pihak polisi  dia Sang Captain secara tidak sadar selalu mengucapkan kata KOK BIsa. Ini adalah bukti tidak adanya kerjasama yang baik oleh pihak Flight Deck. KOran Australia bisa saja benar atas berita yang pernah dilansir oleh beberapa media di Australia, namun pihak Menteri Perhubungan dan KNKT seperti kebakaran jenggot atas berita tersebut. Anehnya lagi Menteri perhubungan dan KNKT selalu saja berdalih atas penyebab kecelakaan suatu pesawat, padahal sudah nyata tugas pemerintah seharusnya memberikan kabar yang transparans penyebab suatu kecelakaan karena menyangkut suatu keselamatan PUBlik. Dari dulu hingga sekarang saya tidak pernah setuju KNKT berada dibawah naungan Menteri Perhubungan, yang seharusnya Kerja KNKT harus meliruskan kerja orang-orang perhubungan. Beberapa kejadian kecelakaan pesawasat udara di Indonesia didominasi karena faktor Human Error atau biasa disebut MEn,  secara umum dalam dunia aerodinamika yang diperjelas oleh Aviation Knowlege bahwa faktor penyebab kecelakaan suatu pesawat karena 3 hal: atau biasa disebut 3M;1. Media ( cuaca ) 2. Mechine  ( keadaan pesawat sejak dari pabrik hingga ditangan Operator) 3. Men  ( Manusia  yg terlibat dalam menjalankan pesawat ).  Ketiga kunci diatas seharusya menjadi acuan ketika KNKT mencari penyebab kecelakaan suatu pesawat, tidak usah banyak berdalih atau menyalahkan bberita dari pihak asing. Coba mari kita lihat kecelakaan pesawat  Garuda di bandara Adisucipto yang lalu dari beberapa saksi mata yang sempat di wawancari oleh Metro TV dan TV lainnya seperti DIn Syamsuddin dan Cornelis yang dikenal pengamat politik dari UI dan beberapa saksi2 lainya. Sebenarnya  pada peristiwa Garuda  saya sempat di wawancarai oleh Koran Fajar pada waktu itu yang intinya wartawan tanya apa penyebab kecelakaan Garuda …? Saya langsung menjawab bahwa 99 % kecelakaan itu karena Human Error. Bahkan waktu itu black BOX belum sempat ditemukan, wartawan bertanya lagi…Apa  alasan saudara mengatakan demikian…? Kembali ketiga tad yang bisa  menyebabkan terjadinya kecelakaan pesawat.  Bukti awal  bahwa keadaan cuaca pagi itu di JOgja sangat cerah, kecepatan angin bahkan normal, artinya sumbangsih media atau cuaca tidak mungkin. keadaan Pesawat boleh dikatakan kategori laik terbang dari segi tehcnikal checknya tidak ada masalah ini juga bukti bahwa keadaan pesawat itu is’t Oke. Penyebab ketiga adalah Men atau Manusia aaaaaaatau Captain dan Copilotnya, dari hasil analisa rekaman suara diperoleh adanya saran dari copilot tidak di indahkan oleh sang Captaain. waaktu itu pesawat masih terlalu tinggi bahkan speednya masih dalam kecepatan 400 sekian Knot. ini disampaikan oleh penumpang sendiri (Cornelis ) tadi saat diwawancarai di Rumah Sakit sesaat setelah kejadian. Bahwa tidak biasanya pesawat landing dengan speed yang masih cepat berdasar pada pendengaran Bapak saat masih diatas pesawat. Apa efect pesawat landing dengan speed 400 knot secara otomatis jika pesawat touch down atau menyentuh landasan akan mengalami bouncing atau terpental lagi keatas bagaikan bola ketika dilemparkan dengan keras ke lantai akan mental. juga efect lain pasti pesawat akan mengalami overshoot atau melawati landasan. Perasaan Ego yang dimiliki sang Captain  berhasil dengan kecelakaan padahal pesawat komersial sekelas Boeing sudah dirancang untuk diwaki oleh 2 Orang, agar dapat saling bertukar pikiran atas masalah yang dihadapi.  Boleh jadi Copilot benar atau memahami  karakteristik bandara Adisucipto memilik landasan yang agak pendek, atas saran tadi  sebaiknya kita berputar sekali lagi  dan  minimun speed untuk pesawat Boeing 737-400 saat touch down 140 Km atau mempertimbangkan berapa degrees flaps untuk landasan yang pendek. Biasanya untuk ukuran runway seperti jogja, lazimnya captain menurunkan flaps pada posisi lower atau yang paling terendah  dengan mengkondisikan kecepatan pesawat. Karena semakin menurunkan flaps, dengan sendirinya mempengaruhi kecepatan semakin menurun, jadi  harus ada keseimbangan  speed dan flaps sehingga  diperoleh touch down yang positif atau dikenal positif landing sehingga laju pesawat bisa diperhitungkan juga ketika sudah didarat, yang secara otomatis dibantu oleh engine reverse. Kesemua kerja di atas tidak terjadi saat pesawat garuda landing, boleh jadi karena egoisme Captain  yang selalu menganggap dirinya lebih benar. Jadi apa penyebab kecelakaan garuda indonesia di Jogja dapat dibenarkan juga apa yang koran australia muat beberapa minngu lalu, tentunya human Error yang dominan.

Demikian tulisan ini, di tulis oleh Mantan Pramugara salah satu Airline di Indonesia. 

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://kutubuku.blogsome.com/2007/04/12/garuda-indonesia-2/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.